In Curhat

Sabtu Petang




Halo.
Kamu tahu hal yang paling tidak aku suka?
Menengok kebelakang sementara sudah ada yang menantimu didepan.
Menengok kebelakang sementara kamu sudah punya yang akan senantiasa menggenggammu, mendorongmu, membantumu kapanpun kamu butuh.
Itu penghinaan namanya. Curang. Apa kamu tidak memikirkan perasaan orang itu? Dia yang selalu ada untukmu?
Kamu berkata bahwa kamu menyayanginya; apa itu hanya dusta bibirmu atau memang benar-benar muncul dari hatimu?
Jangan pernah menyia-nyiakan kehadirannya. Apa ia harus pergi dulu baru kamu bisa merasakan pedihnya kehilangan? Apa kamu mau melihatnya menyerah padamu kemudian ia pergi dan kamu baru merasakan pentingnya dia di hari-harimu?
Sebaiknya jangan. Penyesalan selalu datang terlambat.
Sadarlah. Peka. Jangan terus melihat kebelakang. Lihatlah kesamping. Lihatlah kedepan. Ada yang mau membahagiakanmu dan membuatmu tetap hidup. Ada yang menyadari eksistensimu didunia ini. Ada yang rela menerimamu apa adanya. Ada yang setia memapahmu ketika kamu terjatuh. Ada yang selalu menemanimu bahkan ketika kamu berada di titik terbawahmu.
Ada yang meyayangimu, tanpa syarat.
Ada. Kamu hanya perlu menyadarinya.

Mungkin, dia yang kuceritakan diatas,
Adalah aku.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Flash Fiction

Ego.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat...

Seperti biasanya. Mematut diri di cermin, menghitung satu persatu segala kekurangan pada dirimu dari ujung rambut hingga ujung kuku jari kaki. Menghela napas pelan, kemudian terduduk lemas di lantai keramik yang dingin--masih menatap cermin setinggi badanmu itu.

Seberkas ingatan, sepatah-dua patah kata yang dulu terucap dari bibir lembut seseorang, berputar membentuk sebuah déja vu dikepalamu. Berharap ia ada disini dan kembali menopangmu yang sudah terlampau rapuh.

Aku butuh.

Kamu...


"Tidak, tidak. Jangan merendahkan dirimu seperti itu." Memasang muka tidak-setuju nya, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Menatapmu yang masih memasang raut putus asa, perlahan ia membelai surai ikalmu yang lembut.

Manik cokelatmu bergulir menatapnya, bertumbuk dengan miliknya yang sewarna denganmu, hanya saja lebih gelap; hampir hitam. Ada pantulan dirimu disana, hanya dirimu. Kilatan keceriaan terpapar disana, meskipun didominasi oleh kesedihan yang misterius--yang tidak akan kamu ketahui.

Mengerjap. "Tapi aku mungkin tidak seperti yang kamu bayangkan." Ucapmu, menunduk menghindari tatapan mengintimidasinya. "Aku buruk bagimu."

Ia mendesah kuat-kuat, terkadang kesal menghadapimu yang seperti orang depresi. "Aku memandangmu dengan cara berbeda, kamu tau? Dan meskipun kamu buruk, tapi perasaanku nggak pernah salah. Aku yang memutuskan untuk memilihmu."

Sejenak tenggorokanmu tercekat, sedikit merasa iba, dan bersalah."Keluargaku disfungsional, aku selalu berada dalam tekanan mental, ibuku mendominasi kehidupanku, pemalas, tidak bertanggung jawab, tidak dipercaya, tidak punya 'rumah' untuk pulang--"

"Setidaknya kamu masih punya aku!"

Seruannya yang melengking sejenak membuatmu berhenti berpikir. Wajahnya masih terlihat kesal, kali ini kamu bisa melihat kedua matanya berkaca-kaca, menahan tangis yang terancam pecah. "Kamu begitu, mungkin karena kamu menganggap dirimu lemah. Tapi, aku tahu kamu kuat. Sangat kuat. Lebih kuat daripadaku."

Sebelah punggung tangannya mengusap setitik air mata yang terlanjur pecah. Kamu diam tak berkutik. Selama ini kamu menganggap dialah yang paling kuat, paling tangguh, orang paling hebat yang pernah kamu kenal.

.... Tapi dia menangis seperti ini hanya karena memikirkanmu.

Bodoh.

Seharusnya kamu sadar. Kamu masih punya bahu untuk bersandar. Kamu masih punya tangan untuk menguatkan. Kamu masih punya rumah untuk pulang. Kamu masih punya dia.

Dia yang sekarang terduduk dan menangis dalam diam.

"Apa aku sudah gagal memahamimu?" Ucapnya dalam sela-sela isaknya. Tidakkah kamu sadar? Berkali-kali hatinya tersayat karena perilakumu, tapi berkali-kali juga ia bangkit untuk kembali memaafkanmu?

"Maafkan aku."


Masih menatap cermin, masih diam, masih meratap. Masih kembali pada saat-saat itu.

Bagaimana ia dimulai, bagaimana kamu berubah, dan bagaimana ia diakhiri.

Dimana kamu masih didominasi olehnya.

Oleh egomu.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Flash Fiction

Ia.

"Astaga, kenapa ia begitu dingin?"

Rupanya yang manis mulai menunjukkan ekspresi kesal. Dua gigi susu depannya ia gunakan untuk menggigit bibir bawahnya yang terpoles lipgloss pink. Berusaha agar tidak mengacaukan imajinasinya yang sudah melayang, ia mengetuk-ngetukkan kedua ibu jarinya di tubuhku.

Aku tidak tahu apa yang sedang ia lakukan. Mungkin membalas pesan dari seseorang.

"Kamu lagi badmood?" Ia membaca tulisan yang baru saja ia ukir di tubuhku, memeriksa ejaan, mungkin? Lalu, dengan sedikit ragu, ia menekan setitik area di sisi kananku, kemudian menghela napas panjang.

Aku digeletakkannya begitu saja di sisi tubuhnya. Kulihat ia menyandarkan diri ke sofa lama yang kini sewarna kusam. Wajahnya tak terlihat dari jarak pandangku, aku tak tahu ia sedang memasang ekspresi apa sekarang.

Selalu begini.

Ketika mereka sedang bertengkar, aku dibuangnya membelakangi tubuhnya, seakan tidak mau melihatku lagi. Sekalipun aku bersuara, ia tidak akan menghadapku hingga batas waktu yang ia tentukan.

Ia sedang memberikan waktu untuk seseorang disana yang membuatnya kesal agar menginstrokspeksi dirinya sendiri sebelum ia sanggup memaafkan kesalahannya.

Gadis ini memang sangat sabar, ia tahu apa yang harus ia lakukan dan apa yang harus ia perbuat dengan berpikir matang-matang. Ia tahu kapan waktunya harus menegaskan seseorang, kapan harus berani marah walaupun dengan orang yang ia sayangi.

Meskipun hal itu menyakiti dirinya sendiri pada akhirnya.

Terkadang ia menarikan jemarinya di tubuhku sembari bercerita tentang kekesalannya. Terkadang tanpa sengaja ia tersenyum padaku, senang sekali. Ada pula saat dimana ia melemparku, memekik kegirangan sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan. Pernah pula aku melihatnya mengetuk-ngetuk sembari menangis dalam diam.

Tapi pada akhirnya, ia akan kembali tersenyum. Dan satu hal yang paling kusuka, hampir setiap malam, sesaat sebelum ia menidurkanku, ia akan tersenyum padaku dan berbisik sembari menuliskan pesan untuk seseorang di ujung sana,

"Aku juga sayang kamu."

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Flash Fiction

Bangku Taman

Sore itu.

Hujan rintik-rintik. Aku melangkahkan kaki untuk berteduh di taman dekat sekolah.

Duduk di sebuah bangku taman yang terlindung dari tetes dingin itu, aku menyebar pandangan ke penjuru taman. Di bangku sebelahku seorang ibu tengah menyuapi anaknya yang duduk manis; seorang pria yang tengah mengisap tembakau; pemuda seumuranku yang tertunduk berkutat dengan layar handphonenya; dan wanita yang sibuk mondar-mandir sembari melirik arlojinya. Mungkin ia sedang dikejar waktu.

Hingga manik mataku jatuh pada sebuah bangku taman tak berpenghuni yang terletak di pojok. Tak terurus, tak diacuhkan.

Pikiranku terlempar ke dimensi lampau.

Ketika masih ada kita. Ketika masih ada tempatku untuk pulang. Ketika masih ada yang mau mendengar dan melihatku. Ketika masih ada yang mau menerimaku.

Kita terduduk disana. Berlatar rerumputan dan sinar terik matahari, saling melepas rindu. Bersua setelah lama tak jumpa. Saling bertukar cerita yang terlewat. Tertawa bersama, bertukar pandang, dan tersenyum malu-malu. Saling genggam dan menguatkan, lalu mengharu diam-diam.


Aku mengedip. Menahan air mata yang tanpa sadar menggenang. Telah kembali ke masa sekarang.

"Karena apa yang kita punya dapat menuntun kita menuju harapan."

Hujan masih jatuh dan kembali. Aku beranjak dari bangku itu, kemudian mengenakan tudung jaketku.

Berlari menembus hujan.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Curhat Random

HAPPY EID MUBARAK! 1435 H

Alhamdulillah kita sudah melewati sebulan berpuasa dengan baik. Ramadan mungkin sudah berakhir, tapi pesonanya selalu membekas di hati. Semoga kita bisa bertemu tahun depan!

Ini lebaran ketiga tanpa almarhum yangkung. Dan lebaran yang-entah-keberapa tanpa almarhum mbahkung sama almarhumah mbahtri (yang aku tidak pernah tau seperti apa orangnya :')) alhamdulillah yangti masih diberi kesehatan, dan bisa berkumpul bersama cucu-cucunya.

Lebaran kali ini sepi. Pakde yang dari Medan mudik ke keluarga di Garut. Om sama Mas yang di Jakarta nggak mudik ke Wlingi, katanya mau menikmati kesunyian Jakarta (padahal di tv katanya Jakarta masih macet haha) yang penting pendapatan tahun ini nggak merosot lah ya \m/

Ohya! Saya sekeluarga mohon maaf lahir dan batin, baik disengaja atau tidak. Minal aidzin wal faidzin. {} taqabalallahuminna waminkum. Taqabal yaa kariim.

(Saya sudah minta maaf, terserah kalian mau memaafkan atau tidak. Tapi kata ustadz kalau saya sudah minta maaf tapi nggak dimaafin, sama Allah udah dimaafin duluan kok hahaa)

Idul Fitri. Kembali bersih. Bismillah, saya akan meninggalkan sifat-sifat anak kecil yang tahun kemarin mungkin masih menonjol. Ganti penampilan, attitude, dan rajin belajar. Baik-baik menyusun skala prioritas dan tahu mana yang baik dan buruk.

Saya sudah SMA. Resmi diterima sebagai penduduk Bhumi Mitreka Satata 16 Juli kemarin, setelah melewati serangkaian kegiatan MOPDB yang berkesan istimewa di hati {} bismillah semoga kehidupan SMA saya lancar dan menyenangkan yes \m/

I'm opening a new blank page of my life.

Forget the pain, life must go on. The backstabber just wanna make u better than today, girls.

See you next post! \m/

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Random

To all the people.

Tubuh tidak menjamin kedewasaanmu.

Emosi tidak menjamin kehalusan tutur katamu.

Rupa tidak menjamin watakmu.

So, keep your mind up.

Because you can never really fix a heart.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Cinta

Doubt

Kamu berkata bahwa kamu menyukai hujan, tapi kamu selalu berlindung dibawah payungmu. Karena itulah aku ragu ketika kamu berkata bahwa kamu mencintaiku.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments