In Ekonomi Kelembagaan Pelajaran

Tahu Nggak Ekonomi Kelembagaan Itu Apa?



Sumber: curiousleftist


Akhirnya, setelah masa liburan kemarin disibukkan dengan beberapa kegiatan, minggu ini akhirnya aku resmi menjadi mahasiswi semester 5. Mata kuliah pertama dalam semester ini adalah Ekonomi Kelembagaan. Namanya cukup asing, meskipun begitu rupanya belum cukup untuk mengusik rasa penasaranku. Biarlah, kayaknya nanti juga akan dijelaskan pengantarnya, pikirku.


Tanpa asumsi maupun prasangka lebih lanjut, aku memasuki kelas pertamaku.

Rasa penasaran itu rupanya muncul setelah kelas selesai. Hal itu semakin menjadi-jadi ketika aku tahu bahwa bidang ilmu ini masih memiliki sedikit sekali referensi dan pengembangan. Jadi, setelah membaca beberapa sumber, aku menarik kesimpulan bahwa Ekonomi Kelembagaan (atau yang biasa disebut dengan Institutional Economic) adalah sebuah aliran yang muncul sebagai kritik atau perlawanan yang ditujukan pada aliran ekonomi klasik dan neoklasik. Paham ini muncul pada tahun 1920an di Amerika Serikat. Bidang keilmuan ini berfokus untuk memahami peran lembaga dalam membentuk perilaku ekonomi.

Memangnya, apa sih pentingnya lembaga dalam perekonomian?

Hmm, coba kita flashback dulu ke sejarah Indonesia. Dulu, kita pernah dijajah oleh beberapa negara, seperti Portugis, Spanyol, Belanda, dan Jepang. Tujuannya apa? Selain mencari rempah-rempah yang banyak dicari di Eropa, mereka juga bertujuan untuk menyebarkan agama Kristen dan memperluas wilayah jajahan mereka. Tujuan ini biasanya dirangkum dalam 3G (Gold, Glory, Gospel) atau  biasanya dikenal dengan semangat merkantilisme, karena negara penjajah mendapatkan kekuatan dengan cara melemahkan perekonomian negara jajahannya.

Sumber: thehistoryvault.co.uk
Masih ingat kan, dulu Belanda sempat memiliki suatu lembaga monopoli perdagangan yang kaya dan terkenal banget, namanya VOC (Vereenidge Oostindische Compagnie). Perusahaan terkaya sepanjang sejarah ini memiliki hak octrooi dari pemerintah Belanda, seperti berhak memungut pajak, mencetak mata uang sendiri, bahkan berhak menyatakan perang. Karena itulah, VOC berkembang sangat pesat dengan memeras hasil bumi dari tanah air kita.

Gambar
Sumber: visualcapitalist.com

Namun, setelah 2 abad berjaya, kejayaannya mulai redup. Hal ini dikarenakan banyaknya pegawai VOC yang melakukan korupsi, sehingga VOC dan pemerintah Belanda sampai berhutang untuk menutupi biaya operasional. Selain itu, anggaran mereka juga habis karena perang. Akhirnya, perusahaan ini pun bangkrut.

Melalui cerita VOC di atas kita jadi tahu, ternyata peran lembaga itu begitu penting. Bahkan, saat ini pun "budaya" VOC seperti korupsi atau KKN masih marak terjadi di lembaga pemerintahan kita. Bobroknya sistem kelembagaan, ternyata pada akhirnya akan berimbas pada implementasi kebijakan ekonomi suatu negara. Ngeri!

Karena telah muncul sejak lama, tentunya Ekonomi Kelembagaan juga mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, dimana pada akhirnya dibagi menjadi dua, yaitu Ilmu Ekonomi Kelembagaan Lama (Old Institutional Economics) dan Ilmu Ekonomi Kelembagaan Baru (New Institutional Economic). Wah, apa lagi tuh bedanya new sama old?

Adanya istilah lama dan baru ini bukan berarti yang lama sudah tidak dipakai lagi, tapi penggunaan istilah ini lebih kepada konteks pembedaan tradisi berpikir dan konsentrasi isu yang digeluti. Nah, apa sih Ilmu Ekonomi Kelembagaan Lama?

Hasil gambar untuk john r commons
John R. Commons
Hasil gambar untuk thorstein veblen
Thorstein Veblen
Ilmu Ekonomi Kelembagaan Lama bersumber dari penelitian Bapak Thorstein Veblen dan Bapak John R. Commons. Penelitian Pak Thorstein fokus pada investigasi efek teknologi baru terhadap skema kelembagaan, dan juga mendeskripsikan bagaimana kesepakatan sosial dan kelompok yang berkepentingan dimapankan untuk menolak perubahan. Sementara itu, penelitian Pak Commons lebih fokus pada hukum, hak kepemilikan, dan organisasi yang memiliki implikasi terhadap kekuatan ekonomi, transaksi ekonomi, dan distribusi pendapatan. Nah, dari sini dapat dilihat bahwa kelembagaan dilihat sebagai sebuah pencapaian dari proses formal dan informal dari suatu resolusi konflik. Apa bila konflik tersebut bermuara pada suatu perubahan kelembagaan yang menghasilkan budaya kerja yang saling menguntungkan, maka proses tersebut bisa dikatakan telah berhasil.

Bagaimana dengan Ilmu Ekonomi Kelembagaan Baru? Ilmu Ekonomi Kelembagaan Baru ini bersumber dari banyak tokoh, tidak seperti Ilmu Ekonomi Kelembagaan Lama. Bidang inii menempatkan diri sebagai pembangun teori Ekonomi Kelembagaan yang didasarkan pada asumsi neoklasik. Kelembagaan Baru mengeksplorasi hal-hal kelembagaan yang bersifat non-pasar, seperti hak kepemilikan, kontrak, dll. sebagai upaya untuk mengompensasi kegagalan pasar (market failure). Dalam pendekatan ini, informasi yang tidak sempurna, eksternalitas produksi, dan barang publik, merupakan faktor kunci terjadinya kegagalan pasar, dan karena itulah diperlukan kelembagaan yang bersifat non-pasar.

Jadi, perbedaannya adalah bahwa Ilmu Ekonomi Kelembagaan Lama kajiannya fokus pada kebiasaan atau perilaku yang akan menentukan formasi kelembagaan. Sementara Ilmu Ekonomi Kelembagaan Baru berfokus pada kendala yang menghalangi kondisi kelembagaan, dan memfokuskan kelembagaan sebagai kerangka interaksi antarindividu.

Kenapa sih belajar Ekonomi Kelembagaan itu penting?

Ekonomi Kelembagaan muncul sebagai kritik dari aliran klasik maupun neoklasik, karena dalam aliran klasik maupun neoklasik, beberapa asumsi nyatanya kurang sesuai bila dihadapkan pada fenomena sehari-hari. Salah satu contohnya adalah asumsi bahwa manusia adalah makhluk yang rasional, yang ketika membuat keputusan untuk membeli sesuatu, maka pertimbangannya adalah faktor harga dari barang yang akan dikonsumsi tersebut. Apabila barangnya murah, maka ia akan membelinya, dan ketika harga barang tersebut mahal, maka ia tidak akan membelinya.

Namun, dalam kenyataannya, tidak hanya faktor harga barang yang memengaruhi keputusan untuk membeli barang tersebut. Ada faktor jarak, faktor kedekatan dengan penjual, faktor gaya hidup, kualitas barang, dan faktor-faktor lain yang tidak diperhitungkan oleh ekonom aliran klasik maupun neoklasik. Dalam Ekonomi Kelembagaan, hal-hal ini diperhitungkan, sehingga kita dapat memandang sebuah aktivitas ekonomi dari sudut pandang yang baru dan berbeda.


Bagaimana? Tertarik mempelajari Ekonomi Kelembagaan lebih jauh?


Daftar Pustaka:
Yustika, Ahmad Erani. 2012. Ekonomi Kelembagaan: Paradigma, Teori, dan Kebijakan. Jakarta: Erlangga.
Anonim. 2013. What Is Old Institutional Economic? (https://curiousleftist.wordpress.com/2013/09/14/what-is-old-institutional-economics/) diakses pada 20 Agustus 2019.
Desjardins, Jeff. 2017. The Most Valuable Companies of All-Time (https://www.visualcapitalist.com/most-valuable-companies-all-time/) diakses pada 20 Agustus 2019.
Prasetya1. 2007. Ahmad Erani Yustika: Ekonomi Kelembagaan. (https://prasetya.ub.ac.id/berita/Ahmad-Erani-Yustika-Ekonomi-Kelembagaan-7608-id.html) diakses pada 20 Agustus 2019.
Prayogo, Shashabilla Ajeng. 2016. Ekonomi Kelembagaan: Pemaknaan Ekonomi Kelembagaan #2 (https://medium.com/@thestarrynight/ekonomi-kelembagaan-pemaknaan-ekonomi-kelembagaan-2-e6fe5a062ea2) diakses pada 20 Agustus 2019.
Aji, Seno. 2018. Apa yang Dimaksud dengan Sistem Ekonomi Merkantilisme (https://blog.ruangguru.com/apa-yang-dimaksud-dengan-sistem-ekonomi-merkantilisme-) diakses pada 20 Agustus 2019.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments