In kuliah di UB Perjalanan

Perjalananku Mendapat Gelar "Maha"-siswa

Sumber gambar: Youthmanual
"Saatnya mengucapkan selamat tinggal pada seragam, jadwal pelajaran yang terstruktur, MPK/OSIS, sahabat-sahabat sepermainan, dan guru-guru killer-tapi-pasti-yang-paling-dirindukan. Masa-masa cinta monyet yang menggemaskan dan memalukan bila dikenang, kini akan ditinggalkan mengingat umur yang semakin dewasa. Semakin tinggi kesadaran diri untuk memantaskan diri demi orangtua tersayang dan masa depan yang menghadang melintang."

Saatnya selangkah lebih dekat, untuk kembali ke asal; masyarakat.

***


Aku adalah salah satu dari yang mungkin kamu impi-impikan; lulus mulus lewat jalur SNMPTN/undangan/prestasi/tanpa tes, you name it.

Tapi...

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Social

Freedom


Paruh kedua tahun 2017.

Banyak berita beredar viral di media sosial. Narkoba dan kasus korupsi mungkin sudah biasa, namun, satu persoalan yang membuatku tercenung selama beberapa lama adalah topik mengenai bunuh diri.

Satu. Kemudian dua. Lalu tiga. Beberapa kejadian serupa dalam waktu berdekatan ini membuatku sedikit heran dan bingung; apa yang sebenarnya (para korban sekaligus pelaku) mereka inginkan?


Mungkin jawabannya adalah kebebasan.


Kebebasan dari apa?

Mereka terjerat dalam belenggu. Belenggu itu terbentuk dari orang-orang di sekitar mereka. Atau mungkin dari sebuah trauma. Rentetan itu kemudian membentuk sebuah teror dalam diri mereka. Sebuah ketakutan. Menjelma paranoia.

Aku tahu, dan aku setuju bahwa hidup ini berisi begitu banyak pahit dan manis. Banyak pil pahit yang harus kita telan demi sekotak manis yang begitu berarti. Apakah mereka juga berpikiran demikian? Kuharap iya.

Tapi mungkin tidak.

Ketakutan itu mengambil alih diri mereka, mendorong mereka hingga tenggelam dalam titik terbawahnya dan membiarkan mereka mati perlahan-lahan. Ketakutan itu menempel sampai tubuh mereka tertidur lelap dua meter di bawah tanah.

Mereka hanya ingin bebas dari segala ketakutan itu. Hingga akhir, itulah yang paling mengikat mereka. Mereka meminta bantuan, karena diri mereka sendiri tidak cukup untuk menghadapi ketakutan itu.


Namun, apa yang telah kita lakukan?


Menenggelamkan mereka semakin dalam hingga mereka enggan bernafas kembali.


Lalu, setelah mereka tiada, apa yang akan terjadi pada kita?

Pernah mendengar sebuah kalimat, "Bunuh diri itu menular"?


Benar saja. Cepat atau lambat ketakutan itu akan berpindah menghampirimu.

Each victim of suicide gives his act a personal stamp which expresses his temperament, the special conditions in which he is involved, and which, consequently, cannot be explained by the social and general causes of the phenomenon. [Emile Durkheim] 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Random

Stay


All you have to do is stay
A minute
Just take your time
The clock is tickin'
So stay

 
Current fav: ZEDD ft. Alessia Cara - Stay

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Cinta Curhat Flash Fiction

Lelah

Kenapa kamu harus bertandang
Ketika aku tak ingin menyelak
Kenapa kamu harus bertolak
Ketika akhirnya ku jatuh karam didalammu
Penat
Kamu serupa dengan semua makhluk biadab itu
Yang bertandang seenaknya
Dan bertolak semaunya
Aku benci!

.
.
.
.
Kala itu, aku sedang berada dalam masa pelarianku.

Lari dari persona yang kini berubah tak mengacuhkanku.

Sekarang, ketika aku sudah nyaman berada sendirian di buana ini, tiba tiba kamu datang. Mencoba masuk, kemudian memaksa.

Yang kutahu muasalnya, kau sekedar hanya mengetuk. Sesekali. Lirih pelan seakan ragu-ragu.

Tiada hasil dan respon, kau beranjak menggedor. Semakin sering, tetapi masih lirih. Tegas dan lirih. Mulai kelemitan tentang apa yang ada didalam.

Aku termangu. Bersiap di hadapan gedoranmu yang semakin lama semakin keras, berharap aku meraih kenop dan membukanya.

.... Tetapi aku masih bimbang.

Seakan menuntut, kau mulai tidak lapang. Aku terpekik menatap gedor yang kini menjelma dobrak. Menatap engsel yang sejenak akan lepas dan meloncat, mencerna setiap makna dari dorong paksamu.

Kemudian terbuka.

Aku bergeming. Tak berkedip memindai sosok asing yang berdiri gagah menantangku. Seharusnya aku takut. Seharusnya aku berbalik mengambil sesuatu demi melindungiku.

Bodohnya, aku masih saja termangu.

Ia mengulurkan lengan besarnya. Jemari kokohnya menyapu pandanganku. "Halo. Salam kenal."

Lalu segalanya mengalir begitu saja kala itu. Kau seakan terbiasa singgah disini bersamaku. Aku pun tiada peduli berapa pintu yang telah kau dobrak sebelum kau mendobrak milikku.

Yang terngiang dikepalaku hanyalah, "Biarlah. Kini ia bersamaku."

Ah! Masa-masa di musim Semi kala itu. Merona, segalanya nampak indah dalam jangkau pandangku ketika kau berada lekat didalamnya. Bermekaran dan berbahagia, merona dan penuh sandiwara.

Beriringan dan saling menautkan jemari; mengisi sela kosong diantaranya. Bersama lalui musim semi, hingga sampai pada musim Panas.

Suhu yang meningkat, mungkin itu pulalah yang menyertai argumenmu yang sedikit-sedikit berintonasi naik. Aku terkesiap, sejenak bergetar, kemudian kubalas hujatmu. Sama panasnya; sama intonasinya.

Hingga berlanjut pada Gugur. Eksistensimu semakin pudar disapu sang bayu, ekspetasiku akan jalinan antara kita semakin saru, dan "kita" semakin menjadi baku.

Aku hampir menyerah kala itu, tapi kau kembali.

Di musim Dingin.

Berharap akan rengkuhmu yang tegas nan hangat, juga bisikan manismu yang merasuk jua memabukkan. Menghipnotisku hingga lupa realita. Ekspetasiku melambung jauh ketika itu.

Namun, angan hanyalah berakhir angan.

Kau memutuskan pergi kala itu. Di penghujung Desember, ketika titik rendahku dalam kondisi terburuknya. Mengharap akan setitik hangat, namun yang kudapat hanya dingin.

Mungkin lebih dingin daripada salju kala itu.

Aku meraung, mengikir tanah dengan jemari kosong, mencari secercah hangatmu yang mungkin tersisa dalam setapakmu yang berbalik membelakangiku. Nihil.

Kau benar-benar lesap—lenyap tiada bekas. Entah dimana rimbamu, hingga titik ini aku pun tak bersua.

Hanya jejakmu yang kini melekat dalam kalbuku, membekas dalam hingga kuyakin aku tak mampu menghapusnya.

Tega nian kau.

Berbalik pergi tanpa mengucap apa-apa.

Bodohnya aku.

Yang hingga kini masih mengharap apa-apa...

Bahkan mengharap kau akan berbalik dan kembali merengkuh cerai berai serpih rapuhku.


-Teruntuk temanku yang masih mengharap ia berbalik memelukmu kembali.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Curhat Flash Fiction

Gagal

Ketika argumen-argumen itu keluar dari celah bibirmu dengan segenggam emosi didalamnya,

Ketika kalimat-kalimat tajam itu meluncur dari bibirmu begitu saja,

Apakah kamu pernah berpikir sebelum mengatakannya pada dia? Apa kamu pernah sedikit saja memikirkan bagaimana perasaannya? Bagaimana reaksinya bila mendengarnya?

Kalian memang sering berbeda pendapat, kan? Sangat sering. Dua kepala dengan berbeda pemahaman, berbeda prinsip. Sering sekali bertumbukan begitu saja, bahkan dalam masalah sekecil apapun.

Tapi, kenapa akhir-akhir ini sikapmu begitu sensitif? Sebelum-sebelumnya, sikapmu begitu menyenangkan, setiap masalah selalu berakhir dengan baik, meskipun emosimu selalu mendominasi, untunglah dia masih bisa menggunakan otaknya untuk menghadapimu.

Sekarang, dia lelah. Lelah menghadapimu yang terus-menerus mengedepankan emosi. Lelah menghadapimu yang sulit sekali diajak bicara baik-baik. Lelah menghadapimu yang menolak mendengar pendapatnya.

Hari keempat bulan ketujuh. Siang, dua belas dua puluh.

Hatinya hancur. Melebur bersama air matanya yang sesaat kemudian mengalir deras. Didepan cermin yang tergantung kokoh di dinding, terpantul wajahnya yang putus asa. Sembab. Hancur. Rambut panjangnya acak-acakan, lelah berpikir mencari jalan keluar dari labirin emosimu.

Semuanya karena kalimat itu. Satu kalimat yang kamu luncurkan. Kalimat pertama darimu yang mampu menggoreskan luka dalam di hatinya.

Mendengarnya, ia lemas. Perjuangannya selama ini seakan hancur. Sia-sia. Percuma, pikirnya. Satu kalimat itu sudah membuktikan bahwa kamu tidak pernah mendengarkanku. Menghargai pendapatku walau sedikit, itupun tidak. Apalagi memikirkannya.

Ia tidak menyangka kalau semuanya akan menjadi seburuk ini. Hanya sebuah masalah kecil. Sebuah masalah kecil yang apabila bercampur emosi, akan membesar. Dan akan menjadi sangat besar.

Mau kamu apa?

Aku harus apa?

Salah aku apa?

Kenapa kamu begini?

(Diatas, adalah pertanyaan-pertanyaan yang sampai sekarang belum ia temukan jawabannya darimu)

"Kamu egois." katamu. Iya, aku egois. Pikirnya. Tapi, apa kamu pernah berkaca? Bukannya dirimu sama egoisnya denganku?

"Kamu posesif." Ya, aku memang sedikit posesif, aku hanya ingin menjagamu, oke? Tidak lebih. Tapi, bukannya kita memang sama-sama posesif?

Lucu, ia tertawa di sela isaknya. Ia jadi teringat sesuatu. Biasanya orang-orang akan berkata,

"Perempuan selalu benar."

Tidak, ia menyanggah stereotip itu.

"Dalam kasusku, lelaki selalu benar."

.
.
.
.
Mungkin sekarang ia berpikir seperti itu.
Aku gagal memahamimu.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Curhat Flash Fiction

Run, Lost, and Found

Hidupku penuh dengan berlari.

Menghindar, kabur, sembunyi, dan yang lebih parah; menipu.

Aku terbiasa berlari dari orang lain, mungkin karena itulah aku tidak bisa sepenuhnya terbuka kepada mereka tentang apa yang aku rasakan--bahkan kepada sahabat-sahabatku. Bahkan kepada kedua orangtuaku. Bahkan mungkin kepada diriku sendiri. Aku memiliki kecenderungan untuk tidak mau mengakui kemudian lari, memendamnya kemudian membuangnya dalam setiap langkah lebar yang kuambil. Menangis hingga bulir-bulir air mata itu jatuh ke tanah dan mengering, kemudian tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa.

Mungkin karena itu aku benci menengok kebelakang.

Buat apa? Sama saja dengan bunuh diri. Membuka luka yang sekarang sudah tidak terlihat jejaknya sama sekali. Lebih baik membohongi diri sendiri dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa; itu lebih baik. Bersikap seolah semuanya baik-baik saja, memberikan sugesti kuat pada diri sendiri, dan pada ujungnya akan meyakini bahwa hal itu tidak pernah terjadi.

Itu senjataku untuk membentengi diri--bagus sekali, bukan?

Pada akhirnya, aku bisa tertawa lepas tanpa beban. Bisa tersenyum kapan pun, bahkan ketika semua orang sedang dalam kudung kesedihan dan kepanikan; aku tetap tenang. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, merencanakan plan A B C, kemudian tinggal menunggu apa yang akan terjadi.

Hidup memang semudah itu. Semuanya bergantung pada pola pikirmu dan caramu dalam menentukan sesuatu dan bertindak.

Dan yang terpenting, sugesti.



.
.
.
Sampai sekarang pun aku masih berlari, tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk berhenti. Masih terus menyugesti, masih terus tersenyum, masih terus berpikir bahwa waktu yang akan menyelesaikan semuanya.

Hingga dia berteriak menyadarkanku yang masih terus berlari dari kenyataan.

Di tengah-tengah obrolan malam kami, hari ini ia mengungkapkan sesuatu.

"Cuma belakangan ini terlihat seperti kamu menutup-nutupi sesuatu"

Melambat--pelan--kemudian berhenti.

Astaga.

Ia berhasil menghentikanku. Ia berhasil mengejarku. Ia berhasil menangkapku. Ia berhasil membuka penyamaranku yang sempurna...

Tidak. Itu tidak benar. Aku tidak merasa menutupi apapun... tidak, tidak sampai kamu mengatakan hal itu. Tidak sampai kamu telah menghancurkan semua sugestiku yang kutanam sedemikian rupa; sesempurna mungkin.

Jangan--apa karena kita sama, apa karena kamu juga pernah merasakan yang pernah kurasakan, kamu mengerti? Apa kamu pernah berbohong kepada dirimu sendiri dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja? Apa kamu tahu? Apa kamu mengerti?

Kakiku sudah terlalu lelah. Aku ingin beristirahat.

Mungkin sudah waktunya aku menghadapi perasaanku sendiri. Mungkin sudah waktunya aku menoleh ke samping, menumbukkan tatapanku pada kedua manik matamu yang seakan merobek-robek isi hatiku yang penuh kamuflase, hasil bertahun-tahun kabur dari kesedihan dan memasang topeng kebahagiaan.

"Akhirnya," aku berujar. Bibirku bergetar menahan lelehan air mata yang sedikit lagi akan tumpah.

Tidak dapat dibantah lagi, sesuatu dalam diriku memberontak; berteriak. Dialah orangnya.

Ia masih terus menatapku. Menungguku menyelesaikan frasaku sementara ia masih terus mencari-cari apa yang seharusnya ia percayai; apa yang terjadi padaku.

Percayalah, satu hal, yang tidak ingin aku kamuflasekan darimu.... percayalah bahwa aku menyayangimu. Perasaan itu benar, dan itu satu-satunya hal yang aku ingin kamu tahu bahwa itu tidak palsu.

Jemarinya bergerak; rupanya air mataku telah meleleh, turun membuat anak sungai di pipiku. Aku menarik nafas, rasanya sakit; tapi perasaan bahagiaku tidak terbendung lagi.



"Ada yang bisa selalu menemukanku."

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Curhat

Sabtu Petang




Halo.
Kamu tahu hal yang paling tidak aku suka?
Menengok kebelakang sementara sudah ada yang menantimu didepan.
Menengok kebelakang sementara kamu sudah punya yang akan senantiasa menggenggammu, mendorongmu, membantumu kapanpun kamu butuh.
Itu penghinaan namanya. Curang. Apa kamu tidak memikirkan perasaan orang itu? Dia yang selalu ada untukmu?
Kamu berkata bahwa kamu menyayanginya; apa itu hanya dusta bibirmu atau memang benar-benar muncul dari hatimu?
Jangan pernah menyia-nyiakan kehadirannya. Apa ia harus pergi dulu baru kamu bisa merasakan pedihnya kehilangan? Apa kamu mau melihatnya menyerah padamu kemudian ia pergi dan kamu baru merasakan pentingnya dia di hari-harimu?
Sebaiknya jangan. Penyesalan selalu datang terlambat.
Sadarlah. Peka. Jangan terus melihat kebelakang. Lihatlah kesamping. Lihatlah kedepan. Ada yang mau membahagiakanmu dan membuatmu tetap hidup. Ada yang menyadari eksistensimu didunia ini. Ada yang rela menerimamu apa adanya. Ada yang setia memapahmu ketika kamu terjatuh. Ada yang selalu menemanimu bahkan ketika kamu berada di titik terbawahmu.
Ada yang meyayangimu, tanpa syarat.
Ada. Kamu hanya perlu menyadarinya.

Mungkin, dia yang kuceritakan diatas,
Adalah aku.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments